KETIKA CINTAKU MENGGIGIT

Cintaku menggigitku habis-habisan di sana, di salah satu titik ordinat yang dimiliki kota Yogyakarta. Orang-orang menyebut tempat itu dengan sebutan yang indah, mereka memanggilnya  ‘bukit berbintang’. Jika malam tiba, bukit berbintang mampu menyuguhkan panorama seluruh lampu kota Yogyakarta. Disana kau bisa melihat lampu-lampu kota, lampu-lampu kendaraan dan lampu-lampu bandara mengecil. Lampu-lampu itu terlihat menyemut. Sungguh indah sekali. Di sini pula aku akan menyajikan cerita tentang kata yang menggigitkan cinta di malam itu. Wahai, kawan dengarkanlah ini baik-baik.
 
Ini kisah antara aku, dia dan bukit berbintang. Di penghujung kata-katanyalah, aku baru mengerti bagaimana  seharusnya cinta itu digigit sekuat mungkin. Dan yang menjadi latar pengantar pembicaraan kita adalah KATA KECEWA. Katanya padaku waktu itu, “Aku kecewa denganmu Dini. Rasanya aku ingin menjeburkanmu ke laut…” Aku diam, cukup susah menelan kata-katanya yang mentah. Tapi perasaanku berkata, kali ini ia berhak marah padaku. Oleh sebab itu, aku hanya menjawab pasrah. Kataku padanya.  “Katakanlah apa yang membuatmu marah..”

“Kalau begitu dengarkanlah ini..” katanya seperti mengeluarkan dekrit presiden. Kali ini aku yang salah, bagiku ia berhak melakukan apa saja. Bagiku ia ibarat raja yang bertitah. Dan tugasku sekarang adalah mematuhinya. Maka, aku dengarkan perkataanya baik-baik mulai dari sekarang. Katanya padaku, “Dini, beberapa hari yang lalu aku melihat konser musik. Konsernya mulai tepat waktu, manajemenya bagus dan petugasnya ramah-ramah. Pelayanannya sungguh memuaskan. Sungguh beda sekali dengan acara Islam yang beberapa minggu lalu aku hadiri. Kau tahu Dini? ngaretnya satu jam, pelayanannya tidak enak. Jika aku dewan juri yang ditugasi untuk memberi nilai pada manajemennya, untuk acara yang bertaraf nasional seperti itu, maka akan aku beri nilai KATA KACAU. Bagaimana tidak? Seminggu sebelum tablig akbar dimulai, harga tiket di potong tiga puluh persen. Mungkin maksudnya baik agar tiketnya ter-sould out. Tapi itu sangat  mengecewakan bagi orang-orang yang telah membeli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Bagiku, itu sangat menyebalkan, sama seperti dirimu yang menyebalkan” Dalam kata, ia muntahkan amarahnya. Aku mulai meraba, kemanakah muara pembicaraan ini.

Kawan, kalimat selanjutnyalah yang membuat aku mengerti, mengapa akulah yang bersalah malam ini. Dan oleh sebab itu aku berpikir, ‘engkau berhak menjadi raja untuk malam ini. Bicaralah sepuasmu dan aku akan bersedia menjadi budak pendengarmu’. Baiklah Kawan, akan kuberitahu dimana aku menemukan kesalahanku, yaitu ketika dia berkata lagi padaku, “Kau tahu dini? Kau selalu datang telat, saat janjian, saat rapat, saat kuliah dan parahnya lagi engkau tidak pernah merasa bersalah melakukan itu. Seperti kemarin saat kita janjian, aku menunggumu satu jam lebih. Padahal aku mempunyai agenda lain. Aku ingin ke perpustakaan, aku mau mengerjakan ini-itu dan semuanya terhenti hanya karena kamu datang ngaret.  Dan hal seperti itu sering sekali engkau lakukan bukan? Aku yakin kau pasti lebih paham dari diriku, tentang ajaran Islam yang  menghargai waktu. Kau juga pasti lebih tahu dariku, jika Tuhanpun bersumpah atas nama waktu. Kau juga selalu solat diawal waktu. Kau sering bilang padaku life is temporally, hidup di dunia ini hanya sebentar saja. tetapi kenapa kau tidak bisa menghargai waktu? Kenapa kau selalu telat janjian dengan orang? Aku benar-benar kecewa padamu Dini” JLEB!!!, kata-katanya menusuk tepat di hulu jantungku. Tuhan, kuatkan aku untuk tetap mendengarkan kata-kata darinya, meskipun ada yang terobek-robek didalam dada ini. Asalkan untuk menampakkan kebenaran, maka aku rela. Kataku membatin didalam diamnya malam.

Katanya lagi, “ Aku kecewa Dini, kau orang yang mengerti agama tetapi engkau sendiri yang melanggar ajaran agama. Engkau adalah wanita yang berjilbab lebar, engkau juga sering bicara agama, engkau sering bicara tafsir dan sirrah, tetapi mengapa tidak sesuai dengan akhlakmu?” Sampai disini kata-katanya telah mencokot perasaanku dan mencekat suaraku. Sebenarnya aku ingin berteriak menyanggahnya, ketika dia bilang aku adalah orang yang mengerti tentang agama. Tuhan, Engkau maha tahu, jika Itu semua keliru. Tetapi aku menahan diriku dari melakukan itu. Aku tidak jadi berteriak dan menyanggahnya. Aku ingin mendengar kata-katanya lebih dalam lagi. Makanya, daripada aku menghentikannya lalu kata kata-katanya terputus, lebih baik aku biarkan ia bicara sepuasnya.

Katanya lagi padaku, “Kau tahu Dini, apa yang ada dipikiran orang awam sepertiku ketika melihat itu semua? Aku berpikir bahwa kebanyakan wanita yang berjilbab besar itu kalau janjian selalu nggak on time. Liat aja kajian-kajian yang diselenggarakan, selalu saja molor waktunya. Kadang molor setengah jam, kadang satu jam atau  terkadang dua jam. Kenapa acara-acara Islam itu tidak bisa tepat waktu seperti acara konser musik, drama atau boy band? Mengapa seminar islam, kajian Islam dan tablig akbar manajemennya selalu nggak bagus? Itu karena orang-orang di dalamnya seperti kamu, Dini!!“  Tuhan, semakin lemas saja aku mendengarkan kata demi kata darinya.

Kugelembungkan dadaku sembari berdoa, Tuhan perluas dadaku untuk mendengarkan hikmah dari kata-kata tajam yang bertubi-tubi menghujamku. Setelah berdoa, kupasang telingaku lebar-lebar untuk mendengar kata-kata darinya lagi. “Kau tahu Dini, apa yang dipikirkan orang-orang awam sepertiku ketika menyaksikan orang-orang sepertimu. Mereka akan berpikir, Ternyata wanita-wanita yang berjilbab besar itu kebanyakan mukenanya bau sehingga mengganggu solat orang disebelahnya, kamarnya kotor, kalau pinjem buku nggak dibalik-balikin dan kalau janjian ngaret. Pokoknya mereka nggak professional dan sering merugikan orang lain. Ketika Orang awam sepertiku melihatmu, mereka sama sekali tidak tahu menahu soal kiprahmu di masyarakat, niatan baikmu, begitu pula dengan cita-cita besarmu. Ketika mereka bersinggungan denganmu, dan kau tidak memenuhi hak-haknya sebagaimana mestinya, mereka akan berpikiran jelek tentangmu. ‘ternyata orang yang suka menggaung-gaungkan nama Islam itu, seperti itu ya kelakuannya’ Mereka juga akan berpikir orang-orang yang jilbabnya lebar, yang suka ngomong agama itu menyebalkan. Ini masih lingkup di Indonesia lho Dini, di Negara yang mayoritas penduduknya muslim. Bagaimana kalau kamu berada di sekup internasional, ditempat Islam belum begitu diterima. Mereka akan berpikir, “Oh, muslim itu ternyata seperti itu’, Bukankah hal seperti itu menjatuhkan nama Islam?”.

Kalimat terakhirnya telah menghempaskanku pada sesal yang dalam. Sampai disini aku peluk tubuhnya. Aku katakan padanya, “Maaf, maaf,maaf, maafkan aku..” Di dalam pelukan, ingin sekali bukatakan, “Tidak, tidak semua wanita yang berjilbab lebar itu selalu ngaret kalau janjian, selalu bau mukenanya dan kotor kamarnya. Tetapi kebetulan saja yang kau kenal dari wanita yang berjilbab lebar adalah diriku.

Sial, tak satupun satu suku kata yang bisa kuucap, padahal ingin sekali kukatakan padanya, “Engkau benar, yah engkau benar, Islam dengan gamblangnya mengajarkan kita menghargai waktu, menjaga kebersihan dan memberikan hak-hak orang sesuai porsinya. Engkau benar, seharusnya kita yang beragama Islamlah yang  lebih berhak untuk disiplin, untuk rapi dan untuk bersih. Tetapi pada kenyataannya yang berdisiplin, yang rapi, yang ulet mencari ilmu, yang nggak korup adalah Negara  yang agamanya tidak mengajarkan nilai-nilai seperti itu. Seperti Jepang yang tidak beragama, seperti singapura, atau Negara barat yang kebanyakan penduduknya tidak mengakui Tuhan, yang tidak takut dosa dan tidak percaya akherat. Allahu ya karim, aku mengaku, sungguh aku mengaku, mengapa kaum muslimin ini sekarang berada dalam keterbelakangan. Aku mengaku, sungguh aku mengaku, ini semua karena kebanyakan orang-orangnya sepertiku. Aku zolim, sungguh aku telah Zolim. Astaugfirullah hal ngadzim. Maafkan aku Tuhan,..,” Sayang kata-kata itu tidak mampu kuucapkan. Entah mengapa setiap aku mau bicara, kata-kata itu menguap begitu saja. Aku hanya bisa mengucapkan kata, “maaf, maaf,maaf dan maaf”

Untuk seseorang yang kupeluk di bukit berbintang pada malam itu, terimakasih atas kalimatmu yang ini, “Aku tidak ingin dirimu saja yang tahu tentang ini Dini. Aku juga ingin teman-teman akhwatmu itu tahu..”

Untuk seseorang yang menunjukkan padaku indahnya seluruh lampu Yogyakarta yang menyemut di malam itu, dengarkanlah ini, “Sesuai permintaanmu padaku, maka aku buat ini untukmu. Dengan ini, aku kirimkan sepasukan barikade kata untuk memberitahukan ini pada dunia …”

Untuk seseorang yang bersamaku di bukit berbintang waktu itu. Terimakasih telah menggigitku pada malam itu. Semenjak itu, aku  berazam untuk menggigitkan cintaku pada agama ini lebih kuat lagi. Sebagaimana Rasulullah menyabdakan  dalam kosa kata yang menggigit pula. Yaitu ketika beliau bersabda: “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ar Rosyidin  yang mendapat PETUNJUK, pegang teguhlah ia dan GIGITLAH ia dengan gigi geraham … ( HR. Abu Daud)

Note From : https://www.facebook.com/notes/arkandini-leo/ketika-cintaku-menggigit/10150914295009542

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s